TERKINI Breaking

Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Ulama Besar Madura yang Menginspirasi Lahirnya Nahdlatul Ulama

Share berita ini
Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Ulama Besar Madura yang Menginspirasi Lahirnya Nahdlatul Ulama
Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Ulama Besar Madura yang Menginspirasi Lahirnya Nahdlatul Ulama
Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan merupakan salah satu ulama besar asal Madura.

Bangkalan, Libas Kasus.online — Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan merupakan salah satu ulama besar asal Madura yang memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Nusantara. Sosoknya dikenal sebagai mahaguru para kiai, pendidik santri, serta ulama yang memberikan pengaruh besar terhadap generasi pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Lahir pada 25 Mei 1835 di Kampung Senenan, Kemayoran, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Syaikhona Kholil merupakan putra pasangan KH Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi dalam mempelajari ilmu agama.

Di bawah bimbingan ayahnya, Syaikhona Kholil mempelajari dasar-dasar keislaman, akhlak, serta berbagai disiplin ilmu agama. Kemampuannya dalam menghafal dan memahami kitab-kitab klasik membuatnya dikenal sebagai sosok yang memiliki potensi keilmuan luar biasa sejak usia muda, Senin (19/10/2026).

Ia bahkan dikenal mampu menghafal seribu bait Alfiyah Ibnu Malik, kitab penting yang membahas tata bahasa Arab. Melihat kemampuan tersebut, sang ayah mendorongnya untuk memperdalam ilmu di sejumlah pesantren di Madura dan Jawa sebelum melanjutkan perjalanan keilmuan ke Makkah.

Menimba Ilmu hingga ke Tanah Suci

Perjalanan pendidikan Syaikhona Kholil menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan keluasan ilmunya. Selama berada di Makkah, ia mempelajari berbagai cabang ilmu agama kepada para ulama serta menjalani kehidupan sebagai penuntut ilmu dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan.

Dalam sejumlah riwayat, ia dikisahkan menyalin kitab-kitab keagamaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup selama belajar di Tanah Suci.

Setelah menyelesaikan perjalanan pendidikannya, Syaikhona Kholil kembali ke Madura sekitar 1863. Ia kemudian menetap di Jengkebuan, Bangkalan, dan mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam.

Pesantren tersebut berkembang dan menarik kedatangan santri dari berbagai daerah. Seiring waktu, Syaikhona Kholil juga mengembangkan kegiatan dakwah dan pendidikan di kawasan Kademangan atau Demangan, tidak jauh dari Alun-alun Bangkalan.

Di tempat tersebut, ia membangun lingkungan pendidikan yang menjadi pusat pengajaran agama dan pembinaan akhlak masyarakat.

Menjadi Guru Para Kiai Nusantara

Kedalaman ilmu dan pengaruhnya menjadikan Syaikhona Kholil dihormati sebagai salah satu guru besar ulama Nusantara.

Ia menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk nahwu, sharaf, fikih, dan hadis. Namun, keistimewaannya tidak hanya terletak pada penguasaan ilmu, melainkan juga pada pengabdiannya dalam mendidik santri dan membangun tradisi keilmuan pesantren.

Para muridnya kemudian menyebarkan ilmu yang diperoleh ke berbagai daerah. Sebagian mendirikan pesantren, memimpin lembaga keagamaan, dan berperan dalam membimbing kehidupan masyarakat.

Pengaruh tersebut menjadikan Bangkalan sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam di Madura dan Nusantara.

Warisan Karya dan Keilmuan

Selain dikenal sebagai pendidik, Syaikhona Kholil juga dikaitkan dengan sejumlah karya keagamaan yang menjadi bagian dari khazanah intelektual Islam.

Beberapa karya yang disebut dalam berbagai sumber antara lain Al-Matnu as-Syarif, As-Silah fi Bayan an-Nikah, Isti’dad al-Maut, serta tradisi pembacaan Ratib Syaikhona Kholil.

Karya dan warisan keilmuannya mencerminkan perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan umat, mulai dari ibadah, hukum keluarga, hingga persiapan menghadapi kematian.

Penelusuran manuskrip dan sumber sejarah tetap diperlukan untuk memastikan atribusi, isi, serta riwayat setiap karya secara tepat.

Inspirasi bagi Berdirinya Nahdlatul Ulama

Salah satu sisi penting dalam perjalanan Syaikhona Kholil adalah pengaruhnya terhadap para ulama yang kemudian menjadi tokoh pendiri Nahdlatul Ulama pada 1926.

Di antara tokoh yang memiliki hubungan keilmuan dengan tradisi pesantren tersebut adalah KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah. Nama KH As'ad Syamsul Arifin juga kerap disebut dalam berbagai kisah mengenai hubungan Syaikhona Kholil dengan proses lahirnya NU.

Walaupun Syaikhona Kholil wafat sebelum NU resmi berdiri, pengaruh keilmuan dan bimbingannya terhadap generasi ulama memiliki tempat penting dalam ingatan sejarah pesantren.

Kisah-kisah mengenai petunjuk dan restunya kepada para ulama yang mempersiapkan pendirian NU menjadi bagian dari tradisi sejarah yang diwariskan di kalangan Nahdliyin.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pesantren bukan hanya menjadi sarana pengajaran agama, tetapi juga tempat tumbuhnya pemikiran, persatuan ulama, dan pengabdian kepada masyarakat.

Teladan yang Terus Hidup

Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadan 1343 Hijriah, yang dalam sejumlah riwayat disebut terjadi pada 1925 Masehi. Makamnya di kawasan Martajasah, Bangkalan, hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dan para santri dari berbagai daerah.

Kepergiannya tidak menghapus pengaruh yang telah dibangun sepanjang hidupnya. Warisan perjuangannya terus dikenang melalui tradisi pesantren, kiprah para murid, dan nilai-nilai keislaman yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Syaikhona Kholil menjadi contoh bahwa perjuangan bagi bangsa tidak hanya dilakukan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pendidikan, dakwah, pembentukan akhlak, serta pengabdian kepada umat.

Dari Bangkalan, Madura, pengaruh keilmuannya menjangkau berbagai wilayah Nusantara dan menjadi bagian penting dari perjalanan panjang pendidikan Islam di Indonesia.

(Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar.